Kemarau Ancam Pertanian Bali, HKTI: Perbaiki Hulu, Bukan Hanya Bangun Bendungan
07 April 2026
Administrator
Dibaca 17 Kali
DENPASAR, NusaBali.com - Kemarau yang mulai melanda Bali kembali mengancam pertanian, terutama sawah tadah hujan yang bergantung penuh pada curah hujan.
Petani menilai persoalan utama bukan sekadar kemarau, tetapi pengelolaan air yang belum beres, terutama kerusakan kawasan hulu yang menyebabkan banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau.
Anggota HKTI Bali, Dwiatmika, Senin(6/4/2026) mengungkapkan bahwa persoalan utama pertanian di Bali sebenarnya bukan semata-mata kemarau atau banjir, melainkan pengelolaan air dari hulu yang dinilai belum menjadi prioritas pemerintah.
Dwiatmika menjelaskan, kondisi pertanian sangat bergantung pada sistem pengairan. Sawah dengan irigasi teknis yang baik relatif aman baik saat musim hujan maupun kemarau. Namun, sawah yang berada di dataran tinggi atau hanya mengandalkan tadah hujan sangat rentan terhadap kekeringan ekstrem.
“Kalau sawah yang pengairannya bagus, kemarau tidak terlalu berpengaruh. Tapi yang di daerah ketinggian, kalau kemarau bisa benar-benar kering sampai tanahnya pecah dan tidak bisa ditanami sama sekali,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengalaman kekeringan panjang yang pernah terjadi pada tahun 1998, ketika lahan sawah tidak bisa ditanami selama bertahun-tahun karena kekurangan air. Bahkan, ada petani yang mencoba membeli air untuk mengairi sawah, namun secara ekonomi tidak menguntungkan karena biaya produksi lebih besar daripada hasil panen.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan pertanian bukan hanya soal cuaca, tetapi juga sistem irigasi dan tata kelola air yang belum optimal. Dwiatmika mengatakan, dalam menghadapi kemarau, petani umumnya tidak memiliki banyak pilihan selain menunggu hujan atau mengandalkan irigasi yang ada.
Pemerintah memang memiliki program seperti pembuatan sumur bor, tetapi dalam praktiknya petani masih terbebani biaya listrik untuk mengoperasikan pompa air. “Kalau sumur bor pakai listrik dan petaninya harus bayar, banyak petani tidak mampu. Akhirnya lebih baik tidak menanam atau menunggu hujan,” katanya.
Ia menilai solusi jangka pendek seperti sumur bor tidak menyelesaikan akar masalah pertanian di Bali, terutama terkait ketersediaan air saat kemarau panjang.
Dwiatmika menegaskan, solusi utama untuk mengatasi kemarau dan banjir sebenarnya ada di wilayah hulu atau pegunungan. Ia menilai kerusakan hutan dan kawasan resapan air di daerah pegunungan Bali menjadi penyebab utama ketidakstabilan air, saat hujan terjadi banjir, saat kemarau terjadi kekeringan.
“Kalau hulunya diperbaiki, ditanami pohon, air akan tersimpan. Saat kemarau ada air, saat hujan tidak banjir. Banyak sekali manfaatnya. Tapi yang diperbaiki selalu di hilir, bendungan dibuat, sementara hulunya tidak diperhatikan,” tegasnya.
Menurutnya, siklus air di Bali sebenarnya sangat ideal karena jarak pegunungan dan laut yang dekat. Jika kawasan hulu dijaga, maka ketersediaan air untuk pertanian akan lebih stabil sepanjang tahun. Selain masalah air, Dwiatmika juga menyoroti perubahan kebijakan pertanian yang kini membebaskan petani menanam apa saja tanpa pola tanam serempak.
Ia menilai kebijakan lama yang mengatur tanam padi dan palawija secara serempak justru lebih baik untuk pengendalian hama dan pengaturan air. “Kalau sekarang petani bebas tanam apa saja, pengendalian penyakit jadi susah dan pengaturan air juga sulit. Dulu ada aturan tanam serempak itu sebenarnya untuk mengatur air dan mengendalikan hama,” jelasnya.
Saat ini, di beberapa wilayah masih ada petani yang menanam palawija seperti jagung dan kedelai, namun sebagian besar tetap menanam padi, tergantung kondisi air dan keputusan penggarap sawah. Dwiatmika menegaskan bahwa kunci utama pertanian sawah hanya satu, yaitu air. Tanpa air, lahan sawah tidak akan produktif meskipun berbagai program pemerintah dibuat. “Intinya sawah itu bisa menghasilkan kalau ada air. Kalau tidak ada air, mau program apa pun tidak ada gunanya,” katanya.
Ia berharap pemerintah lebih fokus pada perbaikan lingkungan di daerah hulu, konservasi hutan, dan sistem pengelolaan air terpadu agar masalah banjir dan kemarau ekstrem di Bali tidak terus berulang setiap tahun. “Kalau hulunya diperbaiki, saya yakin masalah banjir dan kemarau di Bali bisa selesai. Petani yang paling penting itu hanya satu, ada air,” tandasnya. *may
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin